Kamis, 28 Februari 2013

Untuk Kamu, Mantan Pacar ku..

Hei kamu. Iya, kamu. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Akupun begitu, meski aku tahu kamu tidak akan menanyakan kabarku. Bagaimana pekerjaanmu? Lancar-lancar sajakah? Masihkah kamu telat makan? Dulu aku yang sering mengingatkanmu untuk makan, meski hanya lewat pesan SMS. Karena dulu kita jauh hanya bisa memeluk lewat doa, dan mengecup lewat gambar. Sedih ya? Tapi kamu pasti sekarang sudah tidak sedih lagi. Sudah ada dia di sampingmu. Hei, mengapa kamu terbelalak seperti itu? Apa kamu heran aku sudah mengetahui hal itu? Aku sudah tahu. Dia yang di sampingmu sekarang pasti lebih baik, lebih sabar dan lebih cantik dariku. Lihatlah, dia tersipu malu. Tidak mengapa
Hei kamu yang dulu sering menggenggam tanganku, pasti kamu sekarang bertanya-tanya mengapa aku bisa mengetahui hubungan kalian, bukan? Kalau tidak bertanya pun tidak apa-apa, aku akan tetap menceritakannya. Aku tahu, kalian sudah saling mengenal lama. Malam itu aku juga melihat pesan darinya. Saat itu aku hanya tersenyum karena mengetahui kamu tetaplah lelaki yang baik; yang tidak pernah menolak mendengarkan keluh kesah orang lain. Di saat yang sama akupun bangga memiliki lelaki sepertimu, walau tanpa kusangka kebanggaanku itulah yang menghantarkanmu ke gerbang kenyamanan dengan orang lain, dengan dia tepatnya.
Sayang, tahukah kamu sebulan sebelum hubungan kita berakhir, aku sudah memiliki firasat itu? Saat itu, kamu mulai berubah. Kamu mulai jarang menghubungiku, jarang meneleponku bahkan kamu jarang membalas pesanku. Aku yang berusaha sabarpun ternyata tetap memiliki rasa penasaran, Sayang. Aku mulai mencari tahu kabarmu lewat akun facebook dan twittermu, tapi kamu menghilang seperti ditelan bumi. Aku mulai berprasangka yang bukan-bukan, tapi langsung kutepis karena kamu bukan lelaki yang suka jika aku berpikiran negatif tentangmu. Aku menghindari sekali berpikir tidak jelas khas perempuan gemini; yang memiliki ‘anak kembar’ di otaknya. Tidak baik jika aku membiarkan ‘anak kembar itu’ mengambil alih cara berpikirku, itu menurutmu. Dan aku menurutimu. Aku mengiyakan saja semua kata-katamu karena kepercayaan adalah modal suatu hubungan, katamu lagi. Aku percaya itu, karena kamu sudah mengatakannya di awal hubungan kita, jauh sebelum dia datang. Firasat buruk itu semakin menguat pada dua minggu terakhir kebersamaan kita. Kamu benar-benar menghilang dari hidupku, menjauhiku layaknya orang asing
Dan dua minggu setelah hubungan kita berakhir, kamu menyatakan cinta padanya. Rupanya hanya butuh waktu yang sebentar untukmu mencari penggantiku. Tentu saja, kamu sudah memilikinya jauh sebelum itu, juga menyadari keberadaannya jauh lebih lama dari yang kutahu. Kalian sungguh pasangan yang serasi. Kamu dan dia sama-sama menginginkan pasangan yang tidak hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai teman, bukan? Sedang aku adalah perempuan yang sensitif, serius dan kaku.
Hei, kenapa matamu terbelalak seperti itu? Bukan kamu, Sayang. Tetapi kekasihmu. Apa kamu heran aku masih begitu mengingat detil tentang kekasihmu? Kamu tidak perlu khawatir, cantik. Aku mengikhlaskan kalian, sungguh. Hei cantik, rileks. Mengapa alismu masih mengeryit begitu? Kamu pasti heran kenapa aku bisa persis membaca pikiranmu. Aku juga perempuan, cantik. Sama sepertimu. Bukankah kami, para perempuan, punya radar canggih yang akan berbunyi nyaring ketika ada perempuan lain yang juga menyimpan rasa yang sama kepada pasangan kami. Lagi-lagi aku harus mengatakan, aku bukan perempuan yang patut kau khawatirkan akan merebut kembali pasanganmu. Aku turut berbahagia melihat kebahagiaan kalian sekarang, yang sepertinya jauh lebih bahagia jika dibandingkan dengan saat bersamaku.
Tidak ada tujuan lain yang menggerakkan jemariku menuliskan surat ini, selain ingin mengucapkan selamat. Selamat untukmu, Sayang, telah menemukan dia yang kaumau. Jaga hatinya, jangan kausakiti dia seperti dulu kau pernah menyakitiku. Aku sudah memaafkan perbuatanmu, mungkin itu bagian yang Tuhan berikan untukku. Selamat juga untukmu, cantik. Kamu memang pantas mendampingi lelaki hebat seperti dia yang sekarang ada di sampingmu, orang yang sama yang pernah ada di sampingku dulu
Tepat satu bulan setelah kepergianmu, ada lelaki sederhana yang menemuiku. Dia memang tidak sepertimu, juga tidak sehumoris dirimu. Tapi dia bisa membuatku tenang hanya karena melihat senyumnya. dia memberikan keyakinan. Bahwa jika keadaan menjadi sulit, dialah orang pertama yang bisa kuhubungi, yang bisa meminjamkan bahunya untuk kujatuhi air mata. Cinta memang tidak seindah dongeng, begitu katanya. Tetapi cinta bisa tetap indah karena ada dua orang yang saling berjanji untuk membuat dongengnya sendiri sampai waktu memisahkan.
Hei kamu. Iya, kamu. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja. Akupun begitu, meski aku tahu kamu tidak akan menanyakan kabarku. Bagaimana pekerjaanmu? Lancar-lancar sajakah? Masihkah kamu telat makan? Dulu aku yang sering mengingatkanmu untuk makan, meski hanya lewat pesan SMS. Karena dulu kita jauh hanya bisa memeluk lewat doa, dan mengecup lewat gambar. Sedih ya? Tapi kamu pasti sekarang sudah tidak sedih lagi. Sudah ada dia di sampingmu. Hei, mengapa kamu terbelalak seperti itu? Apa kamu heran aku sudah mengetahui hal itu? Aku sudah tahu. Dia yang di sampingmu sekarang pasti lebih baik, lebih sabar dan lebih cantik dariku. Lihatlah, dia tersipu malu. Tidak mengapa
Hei kamu yang dulu sering menggenggam tanganku, pasti kamu sekarang bertanya-tanya mengapa aku bisa mengetahui hubungan kalian, bukan? Kalau tidak bertanya pun tidak apa-apa, aku akan tetap menceritakannya. Aku tahu, kalian sudah saling mengenal lama. Malam itu aku juga melihat pesan darinya. Saat itu aku hanya tersenyum karena mengetahui kamu tetaplah lelaki yang baik; yang tidak pernah menolak mendengarkan keluh kesah orang lain. Di saat yang sama akupun bangga memiliki lelaki sepertimu, walau tanpa kusangka kebanggaanku itulah yang menghantarkanmu ke gerbang kenyamanan dengan orang lain, dengan dia tepatnya.
Sayang, tahukah kamu sebulan sebelum hubungan kita berakhir, aku sudah memiliki firasat itu? Saat itu, kamu mulai berubah. Kamu mulai jarang menghubungiku, jarang meneleponku bahkan kamu jarang membalas pesanku. Aku yang berusaha sabarpun ternyata tetap memiliki rasa penasaran, Sayang. Aku mulai mencari tahu kabarmu lewat akun facebook dan twittermu, tapi kamu menghilang seperti ditelan bumi. Aku mulai berprasangka yang bukan-bukan, tapi langsung kutepis karena kamu bukan lelaki yang suka jika aku berpikiran negatif tentangmu. Aku menghindari sekali berpikir tidak jelas khas perempuan gemini; yang memiliki ‘anak kembar’ di otaknya. Tidak baik jika aku membiarkan ‘anak kembar itu’ mengambil alih cara berpikirku, itu menurutmu. Dan aku menurutimu. Aku mengiyakan saja semua kata-katamu karena kepercayaan adalah modal suatu hubungan, katamu lagi. Aku percaya itu, karena kamu sudah mengatakannya di awal hubungan kita, jauh sebelum dia datang. Firasat buruk itu semakin menguat pada dua minggu terakhir kebersamaan kita. Kamu benar-benar menghilang dari hidupku, menjauhiku layaknya orang asing
Dan dua minggu setelah hubungan kita berakhir, kamu menyatakan cinta padanya. Rupanya hanya butuh waktu yang sebentar untukmu mencari penggantiku. Tentu saja, kamu sudah memilikinya jauh sebelum itu, juga menyadari keberadaannya jauh lebih lama dari yang kutahu. Kalian sungguh pasangan yang serasi. Kamu dan dia sama-sama menginginkan pasangan yang tidak hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai teman, bukan? Sedang aku adalah perempuan yang sensitif, serius dan kaku.
Hei, kenapa matamu terbelalak seperti itu? Bukan kamu, Sayang. Tetapi kekasihmu. Apa kamu heran aku masih begitu mengingat detil tentang kekasihmu? Kamu tidak perlu khawatir, cantik. Aku mengikhlaskan kalian, sungguh. Hei cantik, rileks. Mengapa alismu masih mengeryit begitu? Kamu pasti heran kenapa aku bisa persis membaca pikiranmu. Aku juga perempuan, cantik. Sama sepertimu. Bukankah kami, para perempuan, punya radar canggih yang akan berbunyi nyaring ketika ada perempuan lain yang juga menyimpan rasa yang sama kepada pasangan kami. Lagi-lagi aku harus mengatakan, aku bukan perempuan yang patut kau khawatirkan akan merebut kembali pasanganmu. Aku turut berbahagia melihat kebahagiaan kalian sekarang, yang sepertinya jauh lebih bahagia jika dibandingkan dengan saat bersamaku.
Tidak ada tujuan lain yang menggerakkan jemariku menuliskan surat ini, selain ingin mengucapkan selamat. Selamat untukmu, Sayang, telah menemukan dia yang kaumau. Jaga hatinya, jangan kausakiti dia seperti dulu kau pernah menyakitiku. Aku sudah memaafkan perbuatanmu, mungkin itu bagian yang Tuhan berikan untukku. Selamat juga untukmu, cantik. Kamu memang pantas mendampingi lelaki hebat seperti dia yang sekarang ada di sampingmu, orang yang sama yang pernah ada di sampingku dulu
Tepat satu bulan setelah kepergianmu, ada lelaki sederhana yang menemuiku. Dia memang tidak sepertimu, juga tidak sehumoris dirimu. Tapi dia bisa membuatku tenang hanya karena melihat senyumnya. dia memberikan keyakinan. Bahwa jika keadaan menjadi sulit, dialah orang pertama yang bisa kuhubungi, yang bisa meminjamkan bahunya untuk kujatuhi air mata. Cinta memang tidak seindah dongeng, begitu katanya. Tetapi cinta bisa tetap indah karena ada dua orang yang saling berjanji untuk membuat dongengnya sendiri sampai waktu memisahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar